Majlis Tasbih, 5 Agustus 2016

Majlis Tasbih, 5 Agustus 2016

Pembicara : Radif Khatamirrusli, M.Ed Dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Memahami Makna Hawa Nafsu

pak_radif_2

Hawa nafsu dirangkai dari dua kata yakni hawa dan nafsu. Antara hawa dan nafsu adalah dua kata yang sama sekali berbeda. Kata Hawa adalah keinginan, kehendak atau hasrat. Kata hawa ini lebih identik dengan istilah syahwat. Sedangkan nafsu secara sederhana artinya adalah jiwa atau diri manusia.

Sedangkan menurut bahasa kata hawa berasal dari kata “Al Hawa” adalah Saqatha min 'ulwin(terjatuh dari atas ke bawah), al-Mailu (keinginan dan kesenangan), dan al-Hubb (cinta). Dari sini terbentuk beberapa istilah seperti 'ala hawahu (artinya menurut seleranya, cocok dengan kemauannya atau kesenangannya), Ittaba'a  hawâhu (mengikuti dan memperturutkan keinginan syahwatnya), dan Fil-Hawa (jatuh cinta atau diliputi oleh syahwatnya). Jadi istilah hawa ini lebih tepat jika disamakan dengan "syahwat".

Syahwat artinya segala sesuatu yang diingini, yang digemari, yang disukai, yang menarik hati dan yang mendorong hasrat seksual. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala: "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada "syahwat" (apa-apa yang diingini), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" (Q.S. Ali Imran: 14).

Sesuai dengan pengertiannya "hawa" atau "syahwat" inilah yang banyak menyebabkan manusia terjatuh ke derajat yang rendah.

Sedangkan nafsu menurut bahasa  pengertiannya antara lainnya adalah: an-Nafs jamaknyaanfusun- wa nufûsun (artinya jiwa, diri atau ruh),  an-Nafsiyyu (artinya jiwa terdalam, batin, atau rohani), dan al-'Izz (artinya kemuliaan). Berdasarkan pengertian ini nafsu berarti jiwa yang merupakan bagian dari ruh manusia. Ia pada mulanya bersifat mulia dan bersih.

Jadi pada dasarnya nafsu dengan hawa sama sekali mempunyai arti yang sangat berbeda. Sebenarnya menjadi kurang tepat jika kita sering menyebut nafsu identik dengan hawa dan syahwat. Namun karena telah terlanjur dipakai dan malah telah dibakukan dalam bahasa Indonesia, maka istilah nafsu ini dalam benak orang Indonesia sama persis dengan syawat.

 

Mengendalikan Hawa Nafsu/Syahwat

Al-Hawa atau syahwat adalah tabiat yang telah ada pada diri manusia yang tidak dapat dimusnahkan, karena sifat tersebut sudah tertanam pada diri manusia. Oleh karena itu manusia tidak diperintahkan oleh Allah untuk membunuh syahwatnya, karena sudah pasti itu tak akan pernah bisa. Namun manusia diperintahkan Allah untuk memimpin hawa nafsunya dengan kekuatan iman dan akal sehat mereka. Agar hawa nafsu tersebut dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan syari’at agama Allah Ta'ala. Dalam hal ini Allah Ta'ala memerintahkan kita agar menempa jiwa dan berupaya mengendalikan hawa nafsu. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala yang artinya:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan Jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)". (QS. An-Nazi’at: 40-41).

Maksud dari menahan Jiwa dari keinginan hawa-nafsu atau syahwat menurut Tafsir Al-Jalalainbahwa yang dimaksudkan adalah “orang yang senantiasa mengendalikan diri dari mengikuti kehendak hawa nafsunya”. Kemudian menurut Tafsir Ibnu Katsir yang dimaksudkan adalah “orang-orang yang senantiasa takut dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan dengan ketentuan hukum-Nya”. Sehingga ia mengendalikan jiwanya (atau dirinya) dari kungkungan syahwat-nya dan berusaha untuk senantiasa taat kepada Allah Ta'ala.

Sedangkan dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa yang dimaksud orang yang menahan dirinya dari hawa nafsunya adalah orang yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang diharamkan. Sahabat Sahal r.a., berkata: "Bahwa meninggalkan hawa nafsu adalah "kunci" pembuka pintu surga". Berkaitan dengan ayat ini pula, Abdullah bin Mas’ud r.a., berkata: “Kalian sedang berada pada zaman dimana manusia mendahulukan kebenaran (al-Haqq) diatas hawa nafsunya, dan akan datang suatu zaman dimana manusia mendahulukan hawa nafsunya diatas kebenaran, maka kami berlindung dari zaman yang demikian”.

Sesungguhnya Allah Ta'ala menjajikan pahala dalam ayat ini bahwa bagi siapapun yang yang mampu memimpin jiwanya dan mampu mengendalikan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya kelak.

 

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar